Duta Besar Indonesia Bantah Tuduhan Kolumnis di NZ Herald

Sebelumnya tersebar berita bahwa pemerintah Indonesia melakukan tindakan tidak hormat kepada pemerintah New Zealand atau Selandia Baru dikarenakan presiden Joko Widodo enggan berbicara pada sebuah konferensi pers. Kabar ini juga tersebar luas hingga media sosial di tanah air. Namun, menurut Duta Besar Indonesia untuk Selandia Baru, kabar tersebut tidaklah benar.

Bantahan Untuk Kolumnis di The New Zealand Herald

Duta Besar Indonesia untuk Selandia Baru, Tantowi Yahya telah menepis tuduhan bahwa Presiden Joko “Jokowi” Widodo telah bertindak tidak hormat terhadap Perdana Menteri Jacinda Ardern dengan menolak berbicara di depan umum selama kunjungan kenegaraan minggu lalu ke negara itu. Pernyataan Tantowi tersebut merupakan tanggapan terhadap sebuah komentar di The New Zealand Herald yang ditulis oleh kolumnis Audrey Young, yang melukis kunjungan Jokowi sebagai tindakan “memalukan” karena Presiden dilaporkan “gagal menampilkan dirinya dengan berbagai alasan kepada publik Selandia Baru”.

Dalam pernyataan tertulis yang dikirim ke The Jakarta Post pada hari Senin, Tantowi mengatakan keputusan kedua pemimpin bandar togel online untuk tidak mengadakan konferensi pers bersama, pada kenyataannya, diusulkan oleh Kementerian Luar Negeri dan Perdagangan Selandia Baru (MFAT) dan diadopsi dengan suara bulat. Young mengklaim dalam kolomnya bahwa MFAT mengusulkan konferensi bersama, tetapi “orang Indonesia menolak”.

Tantowi mengatakan kedua pihak telah sepakat untuk mempublikasikan pernyataan bersama yang mencerminkan hasil pembicaraan para pemimpin di portal online mereka masing-masing. “Sebagai tamu, kami menghormati posisi yang diambil oleh tuan rumah kami. Kami sepenuhnya mendukung [proposal], karena tidak ada yang salah dengan itu,” kata Tantowi. Dia melanjutkan; “Kami sangat puas dengan tingkat layanan dan perhatian, serta sambutan hangat yang diberikan pemerintah Selandia Baru kepada kami.”

Kunjungan Pertama Dalam 13 Tahun

Menurut Tantowi, kunjungan tersebut dikatakan berhasil. Keberhasilan kunjungan itu, kata Tantowi, merupakan bukti kerja keras dan persiapan matang yang dilakukan kedua belah pihak. Namun, reaksi yang muncul dari komentar Young terhadap Presiden Jokowi mendorong Kedutaan Besar Indonesia di Wellington untuk memprotes keras dan menuntut klarifikasi atas laporan tersebut, dimana menurut Duta Besar komentar Young dianggap “tidak berdasar” dan melakukan “distorsi kebenaran”.

Komentar itu mengatakan bahwa Presiden dilaporkan menolak untuk bertemu dengan pers dan memberikan pernyataan setelah pembicaraan bilateral dengan Perdana Menteri Ardern pada 19 Maret. “Penulis menganggap ini sebagai tanda ketidaksukaan dari Presiden Jokowi; itu hal yang sangat sok untuk dikatakan,” kata Tantowi. “Sebagai presiden demokrasi terbesar ketiga di dunia, Joko Widodo mendukung kebebasan berekspresi dan kemerdekaan pers,” kata pernyataan Tantowi itu.

Adapun kunjungan Presiden Jokowi ke Selandia Baru pada 18-19 Maret ini adalah yang pertama oleh seorang pemimpin Indonesia dalam 13 tahun terakhir, dan menandai 60 tahun hubungan diplomatik. Kedua negara sepakat untuk meningkatkan hubungan mereka dengan kemitraan komprehensif, dan berkomitmen untuk meningkatkan perdagangan dua arah menjadi NZ $ 4 miliar (US $ 2,9 miliar) pada 2024.

Hingga berita ini turun, belum ada tanggapan dari Young. Namun, masalah seperti ini diharapkan tidak untuk dibahas secara serius. Hal ini dikarenakan sebuah pertemuan resmi pastinya telah melalui protokol atau sesuai dengan standar. Adapun untuk berbicara di depan pers, tentu bisa diadakan atau tidak tergantung dari beberapa hal sesuai dengan kesepakatan. Ini dibuktikan dengan hubungan kedua negara juga masih tetap solid dan tidak terpengaruh oleh komentar Young.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *