Pilkada 2018 Akan dipanaskan Kembali Oleh Isu SARA

Belum selesai dengan adanya isu sara yang dipergunakan oleh beberapa oknum dalam Pilkada Jakarta 2016 lalu sampai dengan akhir tahun 2017, nampaknya Pilkada 2018 juga akan masih dibayang-bayangi oleh isu sara seperti isu agama, ras, suku dan lain sebagainya.

Isu SARA Masih Menghantui

Seperti yang sudah ada sebelumnya, isu SARA yang ditujukan pada Ahok atau Basuki Tjahaja Purnama digunakan untuk menjegal kembalinya dirinya menjadi Gubernur DKI Jakarta. Cerminan ini lah yang membuat Pilkada 2018 yang nampaknya akan sangat buas.

Nampaknya memang benar, akan memanaskan Pilkada 2018. Titi Anggraini, Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perledum) memandang bahwa sentimen SARA masih akan mengancam Pilkada 2018 atau juga Pilpres 2019 karena salah satu alasannya persaingan Nonton Film Online yang sangat ketat antar partai politik.

“Di dalam kompetisi yang amat sengit di mana pertarungan itu sangat luar biasa untuk memenangkan pilkada, bakal selalu ada pihak atau juga oknum yang menggunakan cara ilegal namun dianggap efektif untuk memenangkan Pilkada,” ungkapnya. “Jadi saat ditanya apakah ada isu SARA di Pilkada 2018 yang bakal digunakan lagi, kemungkinan itu selalu ada dan amat sangat mungkin,” imbuhnya.

Kemungkinan maraknya kembali ke isu SARA nampaknya juga menjadi suatu kekhawatiran bagi Tjahjo Kumolo, Menteri Dalam Negeri. Ia langsung saja mewanti-wanti supaya para calon tak menggunakannya di dalam kampanye Pilkada 2018. Malahan ia mengajak para calon untuk adu program.

Katanya, “Marilah kepala daerah untuk adu program, adu konsep, dan juga adu gagasan untuk kesejahteraan dan kemaslahatan masyarakat daerah. Jangan ada kampanye fitnah atau ujar kebencian apalagi SARA.”

Salah satu wilayah yang mana diperkirakan bakal menghadapi tensi SARA yang makin memanas adalah Jawa Barat. Hal ini bisa diketahui dari karakter pemilihnya, dan ini disampaikan oleh Firman Manan, Pengamat Politik dari Universitas Padjajaran. “Karakter pemilih di Jawa Barat itu, salah satu karakter pemilih adalah mereka yang religius bahkan ada perkembangan terakhirnya juga muncul kekuatan Islam yang sangat konservatif,” ungkap Firman.

 

Pemanasan untuk Pilpres 2019

Banyak juga yang melihat bahwa Pilkada 2018 sebagai pemanasan untuk menuju ke Pemilu dan juga Pilpres 2019 karena 3 provinsi yang akan menggelar Pilkada tahun 2018 tepat bulan Juni ini yakni Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur. Dan tiga provinsi ini memiliki jumlah penduduk yang besar. Jadi siapa saja yang menguasai ketiga wilayah tersebut diperkirakan bakal bisa memuluskan langkah untuk pemilihan tahun depan.

Oleh karena itu, Pilkada 2018 menjadi amat sangat menentukan. Ini lah yang dijelaska nn Titi Anggraini dari Perludem karena eksistensi dan kekuatan kompetisi partai bakal diuji secara langsung.

“Jadi ya, 2018 itu istilahnya menjadi sebuah pemanasan, semacam batu uji. Menjadi medium untuk bisa menguji kekuatan partai dan juga kekuatan mesin partai dalam dalam memenangkan pemilu. Jadi misalnya dia bisa menang di Pilkada 2018 ini akan melahirkan psikologi yang positif untuk partai dan pemilih lantaran jarak yang amat sangat berdekatan dengan Pemilu 2019,” ujarnya.

Titi menambahkan bahwa memenangkan Pilkada, untuk partai-partai, nampaknya dianggap sebagai sebuah awal kemenangan. “Jadi ya psikologi politik itu lah yang ingin dibentuk pada Pilkada 2018 di mana berkaitan dengan Pemilu 2019. Itu yang ingun ia bangun. Makanya lalu mereka bakal all out pada tahun 2018. Memenangkan 2018 bakal dilekati dengan perspektif mereka bahwa sudah sebagain dari usaha Pemilu 2019,” tukasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *